Pekanbaru, Riauintegritas.com – Panggung gelap mafia BBM terus bermain di Riau. Seolah menari di atas hukum yang tumpul, pelangsiran solar bersubsidi terus marak di seluruh SPBU, terutama di Pekanbaru. Di tengah pusaran ini, modus operandi para mafia solar terlihat begitu terang, namun tetap berjalan tanpa hambatan. Mobil L300, Kijang Innova, Fortuner, truk, hingga berbagai kendaraan lain berbaris seperti aktor dalam lakon panjang, mengambil bagian mereka sejak 28 Maret 2024 hingga kini, tak tergoyahkan oleh hukum yang hanya menjadi bayang-bayang.
Sebuah surat dari Gubernur Riau yang seharusnya mengekang gerakan ini, ternyata hanya menjadi dokumen yang terbuang, tidak dihiraukan oleh para pemilik SPBU. Tim investigasi media Humas Polri, yang turun langsung ke beberapa SPBU di Pekanbaru, termasuk di Kecamatan Tenayan Raya, menemukan fakta yang lebih mencengangkan. SPBU-SPBU ini menjual solar bersubsidi kepada mafia dengan cara yang begitu terang-terangan, diisi ulang berkali-kali oleh truk coldiesel dan kendaraan lainnya, seolah penegakan hukum hanyalah sebuah ilusi.
Di tengah investigasi ini, Robi, pengawas salah satu SPBU yang terlibat, hanya menatap kosong saat ditegur oleh tim investigasi. Kata-kata peringatan dari Polri hanya dianggap angin lalu, sementara aktivitas ilegal terus berlanjut tanpa rasa takut. SPBU di Jalan Hang Tuah, Lintas Timur Kulim, hingga Harapan Raya, menjadi pusat operasi yang tanpa henti, mengalirkan solar bersubsidi ke tangan mafia, sementara hukum dibiarkan mati suri.
Namun, yang lebih mengejutkan, investigasi membawa tim ke gudang penampungan solar ilegal yang dikuasai oleh oknum TNI. Ketika penjaga gudang ditanya, hanya ada satu nama yang muncul—Mawardi alias Ucok—yang dikenal sebagai dalang di balik operasi ini. Dengan ketenangan yang menyeramkan, cerita ini terus bergulir, seperti sebuah teater hitam di mana keadilan tak lebih dari sekadar peran figuran.
Taufik Hidayat, Ketua Divisi Investigasi dan Observasi LSM Pemantau Kinerja Aparatur Pemerintah Pusat dan Daerah (LSM PKA-PPD), tidak tinggal diam. Dengan suara yang menggema, ia mendesak Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listiyo Sigit dan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa untuk memutus rantai ini dengan tegas. “Tak boleh ada lagi oknum yang bermain di balik panggung gelap ini. Gudang solar ilegal harus dibumihanguskan,” ujarnya tegas, menyerukan tindakan nyata di tengah kebisuan yang mencekam.
Lebih lanjut, Taufik mendesak BPH Migas untuk berhenti bermain-main dengan surat teguran yang hanya menjadi hiasan dinding. “Cabut izin SPBU yang menjadi sarang mafia solar! Teguran tak akan menghentikan komedi hitam ini,” serunya, menegaskan bahwa keadilan tak boleh lagi jadi bahan tertawaan.
Di balik mata kosong yang tak pernah bersuara, cerita ini adalah drama suram yang menunggu akhir yang tajam, di mana hukum dan keadilan harus merobek layar tipis yang menutupi panggung mafia BBM di Riau.(Supriadi)














