PELALAWAN- Tinjau Persiapan Desa Wisata Di Pelalawan, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau Bersama Anggota DPRD Pelalawan mengunjungi Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) dan Flying Squad RAPP.
Provinsi Riau adalah provinsi yang memiliki ragam wisata seperti provinsi lainya di Indonesia, khususnya Kabupaten Pelalawan Kecamatan Ukui, memiliki destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisata baik masyarakat setempat maupun masyarakat luar hingga pariwisata dari manca negara asing.
Pemerintah kabupaten Pelalawan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Pansus ll) Sunardi, SH, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengambil bagian untuk mempersiapkan Taman nasional Teso Nilo menjadi Desa wisata. Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan Rabu, (27/07/2022) pagi
Kegiatan peninjauan ini guna menampung aspirasi penggelolah wisata, maupun masyarakat setempat, hingga kolaborasi dari pemerintahan desa setempat, Desa Lubuk Kembang Bunga.
Sunardi, S.H menyampaikan kepada pemerintah desa setempat, hingga pengelolah wisata akan mempersiapkan Lubuk Kembang Bunga menjadi destinasi desa wisata dimasa yang akan datang bersaing dengan wilayah lainya yang tercatat dalam kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia,” ucapnya.
Lanjutnya, iya menyampaikan akan memperbaiki jalan menuju lokasi wisata dan mengalirkan listrik PLN hingga membangun pendopo-pendopo untuk wisatawan yang bermalam disana, dengan adanya ini maka percayalah nilai jual perkebunan akan meningkat serta menumbuhkan ekonomi dimasyarakat setempat”.
Rendi Apriaza selaku ketua kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Riau Tahun 2022 mewakili teman-teman menyampaikan, Semoga dengan adanya program ini dari pemerintah menjadi bagian dari tanggung jawab kita bersama, untuk menjaga hutan yang tersisa demi menjaga kesetabilan ekosistem dikawasan hutan Taman Nasional Teso Nilo, yang didalamnya masih dihuni Gajah Sumatera, harimau sumatera, tapir, beruang madu, dan satwa yang dilindungi.
Harapan kami dari mahasiswa supaya semua lapisan yang terlibat (oknum-oknum) yang melakukan perambahan cepat sadar untuk menjaga dan berhenti merusak ekosistem hutan ini, karena pada awalnya hutan TNTN ini 81 ribu HA kini tersisa kurang lebih 13 ribu HA, hal ini sangat miris,” ucapnya.
Hutan Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) merupakan tempat perlindungan hayati dan nonhayati di Pulau Sumatera, maka dari itu perlu menjadi perhatian khusus pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat supaya anak cucuk bisa menikmati hasil alam dimasa yang akan datang,” terangnya. (KZ)














